BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Genetika populasi adalah bidang biologi yang mempelajari komposisi genetic populasi
biologi, dan perubahan dalam komposisi genetik yang dihasilkan dari pengaruh
berbagai faktor, termasuk seleksi alam. Genetika populasi mengejar tujuan
mereka dengan mengembangkan model matematis abstrak dinamika frekuensi gen,
mencoba untuk mengambil kesimpulan dari model-model tentang pola-pola
kemungkinan variasi genetik dalam populasi yang sebenarnya, dan menguji
kesimpulan terhadap data empiris. Genetika populasi terikat erat dengan studi
tentang evolusi dan seleksi alam, dan sering dianggap sebagai landasan teori
Darwinisme modern. Ini karena seleksi alam merupakan salah satu faktor yang
paling penting yang dapat mempengaruhi komposisi genetik populasi.
Dengan mempelajari model formal perubahan
frekuensi gen dalam genetika populasi diharapkan dapat menjelaskan proses
evolusi, dan untuk memungkinkan konsekuensi dari hipotesis evolusi yang berbeda
yang dapat dieksplorasi dengan cara yang tepat secara kuantitatif. Seiring
dengan pesatnya kemajuan teknologi di bidang biologi molekuler, aspek-aspek
ilmu genetika juga mengalami perkembangan yang sangat pesat. Aspek yang
dimaksud masuk ke dalam ranah ilmu genetika yaitu clasical genetics, molecular
genetics dan population genetics. Quantitative genetics yang membahas secara
mendalam berbagai macam sifat kuantitatif seperti tinggi badan, berat badan,
IQ, kepekaan terhadap penyakit, dan sebaginya masuk ke dalam ilmu genetika
populasi. Ilmu genetika populasi juga yang mendukung teori evolusi yang
dikemukaan oleh Charles Darwin 150 tahun lalu. Ilmu ini menggunakan berbagai
macam pendekatan statistik untuk membuktikan, menjelaskan atau mendeteksi adanya
perubahan organisme dalam lingkungan oleh sebab adanya dorongan evolusi
(evolutionary force). Dari sinilah lahir istilah Neo-Darwinism Dalam
Neo-Darwinism, evolusi dideskripsikan sebagai perubahan frekuensi alel yang ada
dalam populasi di tempat dan waktu tertentu oleh sebab adanya evolutionary
force.
1.2
Rumusan
Masalah
1. Apa itu prinsip genetika populasi dan sejarah
perkembangannya?
2. Apa itu Hukum Hardy-Weimberg beserta ciri-cirinya?
3. Apa itu evolusi genetika?
1.3
Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prinsip Genetika Populasi
2.1.1 Pengertian
Genetika Populasi
Populasi
adalah suatu kelompok individu sejenis yang hidup pada suatu daerah tertentu.
Genetik populasi adalah cabang dari ilmu genetika yang mempelajari gen-gen
dalam populasi dan menguraikannya secara matematik akibat dari keturunan pada
tingkat populasi. Suatu populasi dikatakan seimbang apabila frekuensi gen dan
frekuensi genetik berada dalam keadaan tetap dari setiap generasi (Suryo 1994).
Genetika
populasi adalah suatu ilmu yang mempelajari komposisi dan variasi genetik
individu-individu dalam suatu populasi dan faktor-faktor yang dapat mengubah
komposisi genetik tersebut.
Genetika populasi ini tidak dapat
dipisahkan dengan teori evolusi yang dicetuskan oleh Charles Darwin (1809-1882)
yang secara garis besar terdiri dari 3 prinsip, yaitu:
- Prinsip variasi yang artinya bahwa
individu-individu dalam suatu populasi akan memiliki variasi morfologi,
fisiologi dan perilaku. Dalam hal ini, Darwin memandang bahwa variasi
tersebut dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya
- Prinsip Hereditas yang artinya bahwa setiap
individu dalam suatu populasi memiliki kesempatan yang sama untuk
menghasilkan keturunan. Namun, ada individu-individu yang berhasil
menghasilkan keturunan dan ada yang tidak berhasil, sehingga densitas
suatu populasi umumnya konstan setiap saat. Selain itu individu-individu
keturunan (filial) akan lebih menyerupai induk atau parentalnya bila
dibandingkan dengan individu-individu lain yang tidak sekerabat.
- Prinsip Seleksi yang artinya bahwa beberapa
individu dalam suatu populasi lebih mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan
bereproduksi bila dibandingkan dengan individu-individu lainnya. Pada
tahapan ini, gen-gen yang menentukan karakter-karakter
yang baik pada
individu-individu tersebut akan dipertahankan keberadaannya dan
selanjutnya diharapkan dapat diwariskan kegenerasi berikutnya.
2.1.2 Sejarah dan Perkembangan Genetika Populasi
Pada saat Mendel (1822-1884) melakukan penelitian pada
kacang kapri dan kemudian Hukum Mendel I dan II diciptakan, beliau masih belum
menggunakan istilah gen. Mendel hanya menjelaskan bahwa ada faktor yang
berperan dalam pewarisan. Selanjutnya dengan penemuan struktur pita berpilin ganda
atau yang dikenal dengan asam deoksiribonukleat (DNA) oleh Watson dan Crick
pada tahun 1953, Genetika Molekuler berkembang dengan pesat. Berdasarkan
pendekatan Genetika Molekuler inilah pewarisan Mendel dapat diterangkan dengan
jelas. Namun demikian, penelitian-penelitian yang dilakukan Mendel lebih
menitik-beratkan pada penyebaran genotip-genotip dan variasi genetik
individu-individu yang dihasilkan dari perkawinan tunggal. Hasil penelitian
Mendel ini tidak membahas tentang penyebaran genotip-genotip dan pola variasi
genetik suatu group atau populasi.
Oleh karena
itu, Godfrey H. Hardy (1877-1947) melakukan beberapa penelitian yang
menggambarkan hubungan antara penyebaran genotip-genotip dengan variasi fenotip
individu-individu pada suatu populasi. Hasil penelitian ini kemudian
dipublikasikan oleh Wilhelm Weinberg dan selanjutnya menjadi dasar dalam
merumuskan prinsip-prinsip dasar Genetika Populasi. Prinsip-prinsip tersebut
adalah bahwa:
- Genetika Populasi lebih menitik-beratkan pada
suatu group atau populasi daripada individu-individu, artinya lebih
memfokuskan pada frekuensi alel dan frekuensi genotip dari satu generasi
ke generasi berikutnya dalam suatu populasi daripada membahas penyebaran
genotip-genotip dan variasi fenotip yang dihasilkan dari perkawinan
tunggal.
- Para ahli Genetika Populasi umumnya menggambarkan
frekuensi alel dan frekuensi genotip sebagai lengkang gen (gene pool)
yaitu suatu set informasi genetik yang dibawa oleh individu-individu suatu
populasi yang dapat melakukan perkawinan (interbreeding) di
dalamnya. Oleh karena itu lengkang gen memiliki arti yang sangat penting
dalam konservasi (Suryo, 1994).
Pada awal
perkembangannya, Genetika Populasi lebih menekankan pada teori dan perkembangan
model-model matematika untuk menggambarkan struktur genetik suatu populasi.
Selanjutnya ketika era komputer mulai berkembang, para ahli Genetika Populasi
mulai membuat program-program simulasi suatu populasi pada eksperimen yang dilakukan.
2.2 Hukum Hardy-Weimberg
Syarat berlakunya asas Hardy-Weinberg,
yaitu:
- Setiap gen mempunyai
viabilitas dan fertilitas yang sama
- Perkawinan terjadi secara
acak
- Tidak terjadi mutasi gen
atau frekuensi terjadinya mutasi sama besar
- Tidak terjadi migrasi
- Jumlah individu dari suatu
populasi selalu besar
Jika lima syarat
yang diajukan dalam kesetimbangan Hardy -Weinberg tadi banyak dilanggar, jelas
akan terjadi evolusi pada populasi tersebut, yang akan menyebabkan perubahan
perbandingan alel dalam populasi tersebut. Definisi evolusi sekarang dapat
dikatakan sebagai: ”Perubahan dari generasi ke generasi dalam hal frekuensi
alel atau genotipe populasi”. Genetika populasi adalah cabang dari genetika
yang mempelajari gen-gen dalam populasi, yang menguraikan secara matematik
kibat dari keturunan pada tingkat populasi. Adapun populasi ialah suatu
kelompok dari satu macam organisme, dan dari situ dapat diambil cuplikan
(sampel). Semua mahkluk merupakan suatu masyarakat sebagai hasil perkawinan
antar spesies dan mempunyai lengkang gen yang sama. Lengkang gen (gene pool)
ialah jumlah dari semua alel yang berlainan atau keterangan genetik dalam
anggota dari suatu populasi yang membias secara kawin. Gen-gen dalam lengkang
mempunyai hubungan dinamis dengan alel lainnya dan dengan lingkungan dimana
mahkluk-mahkluk itu berada. Faktor-faktor lingkungan seperti seleksi, mempunyai
kecenderungan untuk merubah frekuensi gen dan dengan demikian akan menyebabkan
perubahan evolusi dalam populasi.
Dalam tahun
1908 G. Hardy (seorang ahli matematika bangsa inggris) dan W. Weinberg (seorang
dokter bangsa jerman) secara terpisah menemukan dasar-dasar yang ada hubungan
dengan frekuensi gen di dalam populasi. Prinsip yang berbentuk pernyataan
teoritis itu dikenal sebagai prinsif ekuilibrium Hardy Weinberg pernyataan itu
menegaskan bahwa didalam populasi yang equilibrium (dalam kesimbangan), maka
baik frekuensi gen mapun frekuensi genotip akan tetap dari satu generasi ke
genarasi seterusnya.
Kondisi-kondisi yang menunjang Hukum
Hardy-Weinberg sebagai berikut:
- Ukuran populasi harus besar
- Ada isolasi dari polulasi
lain
- Tidak terjadi mutasi
- Perkawinan acak
- Tidak terjadi seleksi alam
Ini dijumpai dalam populasi
yang besar, dimana perkawinan berlangsung secara acak (Random) dan
tidak ada pilihan/ pegetahuan atau faktor lain yang dapat merubah frekuensi
gen. Pimisahan menurut mendel dapat dikemukankan secara matematis mengunakkkan
rumus binomium (a + b)ⁿ diman a adalah kemungkinan bahwa suatu kejadian akan
terjadi, sedang b yang mungkin tidak akan terjadi. Perbandingan 1:2:1 yang
memperlihatkan pemisahan dari sepasng alel tunggal (Aa), pada perkawinan
monohibrid dapat digambarkan sebagai berikut: (a+b)ⁿ = (A+a)² = 1AA + 2Aa + 1aa
(Surya, 2008).
Secara terpisah Hardy dan
Weinberg menemukan suatu rumusan yang menyatakan bahwa frekuensi suatu alel
dalam populasi akan tetap berada dalam keseimbangan dan hal ini dijabarkan
dengan rumus:
P2+2pq+q2=1
P adalah frekuensi alel (A) dan q
adalah frekuensi alel (a). Rumus ini berlaku apabila:
- Mutasi tidak terjadi atau
mutasi menguntungkan sama jumlahnya dengan mutasi yang merugikan
- Semua anggota populasi
tersebut mempunyai kesempatan yang sama untuk mengawini anggota populasi
(perkawinan acak atau panmiksi)
- Tidak terjadi imigrasi atau
jumlah individu yang berimigrasi adalah sama dengan yang berimigrasi
- Semua alela mempunyai kemungkinan
yang sama untuk berada dalam populasi, tidak ada yang lebih unggul
dari yang lain. Dengan perkataan lain, seleksi alam tidak terjadi.
- Jumlah populasi tetap, atau
jumlah individu yang mati sama dengan jumlah individu yang lahir
- Populasi berjumlah besar
sehingga factor kebetulan tidak terjadi atau dapat diabaikan.
2.2.1 Ciri-Ciri Hukum Keseimbangan Hardy-Weinberg
Adapun ciri-ciri dalam hukum
keseimbangan Hardy-Weinberg, antara lain:
- Jumlah frekuensi genotype
harus sama dengan 1, yaitu p2(CC) + 2pq(Cc) + q2(cc)=1
- Hubungan p2 + 2pq
+ q2 tetap, tidak peduli besarnya frekuensi alel permulaan (p
atau q) dapat bernilai 0 sampai 1), yaitu frekuensi genotype pada saat
keseimbangan hanya tergantung pada frekuensi alel permulaan dan tidak
tergantung dari frekuensi genotype dari populasi asal.
- Keseimbangan dapat tercapai
dalam satu generasi; kemudian frekuensi alel dan genotip tidak berubah
dari generasi ke generasi asal syarat-syarat keseimbangan Hardy-Weinberg
terpenuhi.
- Frekuensi alel dapat
ditentukan dari frekuensi satu genotype yang diketahui.
- Bila suatu populasi dalam
keseimbangan, maka frekuensi alel dapat dihitung apabila diketahui
srekuensi satu genotip homozigot. Umpama saudara menangkap suatu contoh
tikus dari pertanaman padi dan diperoleh frekuensi no-agouti (aa)
adalah 0,509 persen (Surya, 2008).
2.3 Evolusi
Genetika
Evolusi adalah perubahan genotip pada suatu populasi yang
berlangsung secara perlahan-lahan dan memerlukan waktu yang sangat panjang. Evolusi (dalam kajian biologi) berarti
perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh
kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang
menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan
suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika
organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru.
Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer
gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara
seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika,
yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika
perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu
populasi (Campbell, 2000).
Evolusi didorong oleh dua mekanisme utama, yaitu seleksi alam dan
hanyutan genetik. Seleksi alam merupakan sebuah proses yang menyebabkan sifat
terwaris yang berguna untuk keberlangsungan hidup dan reproduksi organisme
menjadi lebih umum dalam suatu populasi dan sebaliknya, sifat yang merugikan
menjadi lebih berkurang. Hal ini terjadi karena individu dengan sifat-sifat
yang menguntungkan lebih berpeluang besar bereproduksi, sehingga lebih banyak
individu pada generasi selanjutnya yang mewarisi sifat-sifat yang menguntungkan
ini. Setelah beberapa generasi, adaptasi terjadi melalui kombinasi perubahan
kecil sifat yang terjadi secara terus menerus dan acak ini dengan seleksi alam.
Sementara itu, hanyutan genetik (Genetic Drift) merupakan sebuah proses
bebas yang menghasilkan perubahan acak pada frekuensi sifat suatu populasi.
Hanyutan genetik dihasilkan oleh probabilitas apakah suatu sifat akan
diwariskan ketika suatu individu bertahan hidup dan bereproduksi (Campbell, 2000).
Walaupun perubahan yang dihasilkan oleh hanyutan dan seleksi alam
kecil, perubahan ini akan berakumulasi dan menyebabkan perubahan yang
substansial pada organisme. Proses ini mencapai puncaknya dengan menghasilkan
spesies yang baru. Dan sebenarnya, kemiripan antara organisme yang satu dengan
organisme yang lain mensugestikan bahwa semua spesies yang kita kenal berasal
dari nenek moyang yang sama melalui proses divergen yang terjadi secara
perlahan ini.
2.3.1 Teori Evolusi
a. Teori evolusi menurut
Jean Lamarck
·
Evolusi organik terjadi
karena perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungannya dapat
diturunkan.
· Organ yang mengalami perubahan karena terus
menerus dipakai akan berkembang makin sempurna dan organ yang tidak diperlukan
lagi lama kelamaan perkembangannya menurun dan akhirnya rudiment atau atrofi.
b. Teori evolusi menurut
Charles Darwin
· Spesies
yang ada sekarang adalah keturunan dari spesies-spesies sebelumnya.
· Seleksi
alam sangat menentukan berlangsungnya mekanisme evolusi.
·
Evolusi adalah perubahan dalam satu populasi bukan perubahan
individu.
·
Perubahan yang terjadi hanya frekuensi gen-gen tertentu, sedangkan
sebagian besar sifat gen tidak berubah.
·
Evolusi memerlukan penyimpangan genetik sebagai bahan mentahnya.
Dengan kata lain harus ada perubahan genetik dalam evolusi.
·
Dalam evolusi perubahan diarahkan oleh lingkungan, harus ada faktor
pengaruh sehingga evolusi adalah perubahan yang selektif.
a.
Faktor perubahan
·
Mutasi gen maupun mutasi kromosom menghasilkan bahan mentah untuk
evolusi. Tetapi Darwin sendiri sebenarnya tidak mengenal mutasi ini, sementara
mutasi merupakan peristiwa yang sangat penting yang mendukung keabsahan teori
Darwin
·
Rekombinasi perubahan yang dikenal Darwin. Rekombinasi dari
hasil-hasil mutasi memperlengkap bahan mentah untuk evolusi.
b.
Faktor pengarah :
·
Dalam setiap species terdapat banyak penyimpangan yang menurun,
karenanya dalam satu species tidak ada dua individu yang tepat sama dalam
susunan genetiknya (pada saudara kembar misalnya, susunan genetiknya tetap
tidak sama).
·
Pada umumnya proses reproduksi menghasilkan jumlah individu dalam
tiap generasi lebih banyak daripada jumlah individu pada generasi sebelumnya.
·
Penambahan individu dalam tiap species ternyata dikendalikan hingga
jumlah suatu populasi species dalam waktu yang cukup lama tidak bertambah
secara drastis.
·
Ada persaingan antara individu-individu dalam species untuk
mendapatkan kebutuhan hidupnya dari lingkungannya. Persaingan intra species ini
terjadi antara individu-individu yang berbeda sifat genetiknya. Individu yang
mempunyai sifat paling sesuai dengan lingkungannya akan memiliki viabilitas
yang tinggi. Di samping viabilitas juga fertilitas yang tinggi merupakan faktor
yang penting dalam seleksi alam
·
Variasi genetik muncul akibat : mutasi dan rekombinasi gen-gen
dalam keturunan baru.
c.
Frekuensi Gen
Pada proses evolusi terjadi perubahan frekuensi gen. Bila
perbandingan antara genotip-genotip dalam satu populasi tidak berubah dari satu
generasi ke generasi, maka frekuensi gen dalam populasi tersebut dalam keadaan
seimbang. Frekuensi gen seimbang bila
tidak ada mutasi atau mutasi berjalan seimbang (jika gen A bermutasi
menjadi gen a, maka harus ada gen a yang menjadi gen A dalam jumlah yang sama)
·
Tidak ada seleksi
·
Tidak ada migrasi
·
Perkawinan acak
·
Populasi besar
2.3.4
Mekanisme evolusi
Apabila perbandingan fenotif dalam suatu populasi
tidak berubah dari generasi ke generasi, dapat dinyatakan bahwa frekuensi gena
populasi tersebut dalam keadaan seimbang. Dengan kata lain proses evolusi dapat
diartikan sebagai suatu perubahan komulatif frekuensi allele sejalan dengan
waktu. Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi gena dari generasi ke
generasi cenderung konstan selama tidak ada mutasi gen, rekombinasi gen,
hilangnya gen (genetif drift) maupun alur gen (gen flow). Darwin menambahkan
untuk terjadinya perubahan frekuensi gen terdapat peranan lingkungan. Melalui
proses seleksi alam arah evolusi ditentukan (Campbell,
2000).
a.
Mutasi
Setiap
sel makhluk hidup dapat mengalami mutasi setiap saat, tetapi tidak semua mutasi
dapat diwariskan pada keturunannya. Mutasi yang terjadi pada sel somatik (sel
tubuh) tidak akan diwariskan. Setelah individu yang mengalami mutasi meninggal
maka mutasi yang terjadi juga akan menghilang bersamanya.
Sementara
itu, mutasi yang terjadi pada sel-sel kelamin akan diwariskan pada
keturunannya. Adanya bahan-bahan mutagen dalam gamet dapat menyebabkan
terjadinya mutasi pada sel kelamin jantan (sperma) dan sel kelamin betina
(ovum). Dengan demikian, gen yang bermutasi akan selalu ada dalam setiap sel
keturunan.
Setiap
spesies makhluk hidup memiliki sifat genotip dan fenotip (fisik) yang berbeda
beda. Gen-gen yang menentukan fenotip individu tersimpan di kromosom dalam
nukleus.Gen-gen sendiri tersusun dalam DNA (asam deoksiribonukleat).Sementara
itu, DNA disusun oleh nukleotida yang terdiri dari basa nitrogen, gula
deoksiribosa, dan fosfat.Perubahan yang terjadi pada susunan kimia DNA dapat
mengakibatkan perubahan sifat individu.Perubahan ini disebut mutasi gen.
Sebagian
besar mutasi bersifat merugikan karena mutasi dapat mengubah atau merusak
posisi nukleotida-nukleotida yang menyusun DNA.Perubahan-perubahan akibat
mutasi banyak menyebabkan kematian, cacat, dan abnormalitas, seperti yang
dialami penduduk Hiroshima, Nagasaki, dan Chernobyl.
Kadang-kadang
mutasi pada sel kelamin dapat mengakibatkan timbulnya sifat baru yang
menguntungkan. Bila sifat baru tersebut dapat beradaptasi dengan lingkungannya
maka individu tersebut akan terus hidup dan mewariskan mutasi yang dialaminya
kepada keturunannya.
Jika
mutasi selalu terjadi pada sel kelamin dari generasi ke generasi dapat
menyebabkan susunan gen dalam kromosom generasi pendahulu sangat berbeda dengan
generasi berikutnya. Peristiwa itu memungkinkan timbulnya individu atau spesies
baru yang sangat berbeda dengan generasi pendahulunya. Menurut pendapat
beberapa ilmuwan (evolusionis), perubahan pada struktur kromosom yang bersifat
menguntungkan akan mengakibatkan munculnya spesies baru.
b.
Genetic drift
d.
Rekombinasi Seksual
Pada individu
yang melakukan reproduksi secara seksual keturunan yang dihasilkan dapat
berbeda dengan induknya karena selama meiosis kromosom bergabung secara acak
dan juga pada saat peristiwa fertilisasi terjadi penggabungan materi genetik
dari dua sel gamet. Dengan demikian rekombinasi gen dapat memberi peluang yang
besar untuk terjadinya variabilitas yang berpengaruh terhadap evolusi populasi.
e.
Seleksi alam
Seleksi alam
adalah salah satu faktor evolusi, pertama kali dikemukan oleh Darwin. Individu
yang mempunyai kecocokan dengan lingkungan yang mampu bertahan. Oleh sebab itu
alam bertugas sebagai penyeleksi kelestarian makhluk hidup dari generasi ke
generasi. Hasil adaptasi makhluk hidup terhadap lingkungannya disebut
modifikasi dan ini diturunkan pada anakannya, sehingga seleksi alam merupakan
faktor evolusi (Fried, 2006).
2.3.5 Evolusi Manusia
Proses
evolusi makhluk hidup yang paling mendapat sorotan tajam adalah evolusi
manusia. Kebanyakan orang menanyakan apakah manusia yang ada sekarang adalah
produk evolusi, jika ya tentunya manusia berasal atau berkembang dari dari
makhluk yang lebih sederhana, namun pandangan bahwa manusia adalah produk
evolusi juga membawa konsekuensi bahwa keturunan manusia yang akan datang
adalah makhluk yang lebih sempurna dari manusia yang sekarang. Berbicara
keturunan ada dua hal yang akan diwariskan pada anakan manusia yatiu informasi
genetik dan informasi non-genetik. Informasi genetik sudah sangat jelas
wujudnya, namun informasi non-genetik adalah hasil interaksi manusia terhadap
lingkungan. Karena manusia adalah makhluk yang berakal membuat informasi
non-genetik yang diturunkan semakin kompleks sehingga pembahasan perkembangan
evolusi manusia ditinjau dari aspek psiko-sosial dari makhluk bipedal sampai Homo sapien (Fried, 2006).
Gambar Evolusi
Manusia
a.
Australopithecines
·
Merupakan makhluk
bipedal tegak yang paling tua
·
Muncul 8-10 juta
tahun yang lalu
·
Digolongkan sebagai
hominid (pra-manusia)
·
Australopitthecus
africanus (5,5 juta tahun yang lalu)
·
Australopitthecus
afarensis (3,5 juta tahun yang lalu)
·
Australopitthecus robustus
dan Australopitthecus boisei (2-1 juta tahun yang lalu)
·
Pemakan daging dan
pemakan tumbuhan
·
Mengenal alat dari
batu untuk berburu dan untuk melawan musuh
·
Homo habilis, Australopithesin yang paling maju, tidak sekedar
memakai alat tapi juga membuatnya
b.
Homo erectus
·
Manusia kera yang memiliki ciri-ciri manusia
·
Mampu membuat alat yang lebih baik dari alat yang dibuat Homo habilis dengan variasi yang lebih banyak
·
Alat dari batu dan kayu
·
Mengenal api dan mengenal alat penghasil api
·
Pemburu ulung dan sudah bermasyarakat
·
Meganthropus palaeojavanicus (600-500.000 tahun yang
lalu)
·
Homo erectus Pekinensis (500.000 tahun yang lalu)
c.
Homo Neanthertalensis
·
Hidup sekitar
150.000-60.000 tahun yang lalu
·
Mengenal alat
berburu, alat mempertahankan diri, alat makan, dan alat minum
·
Sudah mengenal
benih-benih kepercahayaan dengan ditemukanya kuburan yang dilakukan penguburan
dengan cara terhormat (kepercayaan ada kehidupan sesudah mati)
·
Dianggap sebagai pra-Homo sapien
|
A
|
|
B
|
Gambar A.Budaya Penguburan oleh Manusia Neanthertal
dan B.
Alat-alat yang dipakai oleh Manusia Neanthertal
d. Homo sapien
·
Homo sapien Tua = Manusia Cro-magnon
·
40.000-10.000 tahun yang lalu
·
Kebudayaannya sudah lebih maju
·
Mengenal seni lukis dan seni patung dan mengenal
pewarna
·
Mengenal alat dari batu, kayu, tanduk, jarum
·
Berbahasa dan berpakaian
|
A
|
|
B
|
Gambar Hasil Karya Seni Manusia Cro Magnon
A.
Patung Venuses
B.
Seni Lukis pada Dinding Gua
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dalam makalah
ini, antara lain:
1. Genetika populasi adalah suatu ilmu yang mempelajari
komposisi dan variasi genetic individu-individu
dalam suatu populasi dan faktor-faktor yang dapat mengubah komposisi genetik
tersebut. Prinsip genetika populasi adalah :
- Genetika
Populasi lebih menitik-beratkan pada suatu group atau populasi daripada
individu-individu, artinya lebih memfokuskan pada frekuensi alel dan frekuensi
genotip dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam suatu populasi daripada
membahas penyebaran genotip-genotip dan variasi fenotip yang dihasilkan dari
perkawinan tunggal.
- Para ahli
Genetika Populasi umumnya menggambarkan frekuensi alel dan frekuensi genotip
sebagai lengkang gen (gene pool) yaitu suatu set informasi genetik yang
dibawa oleh individu-individu suatu populasi yang dapat melakukan perkawinan (interbreeding)
di dalamnya. Oleh karena itu lengkang gen memiliki arti yang sangat penting
dalam konservasi.
2. Hukum Hardy-Weinberg menyatakan bahwa frekuensi alel dan frekuensi
genotipe dalam suatu populasi akan tetap konstan, yakni berada dalam
kesetimbangan dari satu generasi ke generasi lainnya kecuali apabila terdapat
pengaruh-pengaruh tertentu yang mengganggu kesetimbangan tersebut. Pengaruh-
pengaruh tersebut meliputi perkawinan tak acak, mutasi, seleksi, ukuran
populasi terbatas, hanyutan genetik, dan aliran gen.
Adapun
ciri-ciri dalam hukum keseimbangan Hardy-Weinberg, antara lain:
-
Bila suatu populasi dalamkeseimbangan, maka frekuensi alel dapat dihitung apabila diketahui srekuensisatu genotip homozigot. Umpama saudara menangkap suatu contoh tikus daripertanaman padi dan diperoleh frekuensi no-agouti (aa) adalah 0,509persen.
3.2 Saran
Kepada para pembaca
agar dapat membaca dan mencari literatur lain yang lebih relevan serta terkait
dengan makalah ini agar mendapat informasi yang lebih relevan sdan akurat dalam
menambah wawasan mengenai materi genetika populasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar